Take a fresh look at your lifestyle.

Kekerasan Anak, Salah Siapa?

83

Kota Solo Terkini –
Kekerasan Anak, Salah Siapa?

Halo wong solo pengunjung setia KotaSoloID, Pada berita yang akan kalian baca kali ini adalah
Kekerasan Anak, Salah Siapa? , kami telah mempersiapkan berita dari berbagai sumber ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan kali ini
Kekerasan Anak, Salah Siapa? , yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Pelaku tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak pada saat ini bukan lagi disebabkan oleh negara sebagaimana terjadi masa lalu seperti misalnya akibat perang antar negara. Pada saat ini pelaku kekerasan justru berupa perorangan yang seringkali justru merupakan orang-orang terdekat di lingkungan korban atau bahkan orang tua atau wali atau guru korban.

Kekerasan yang dialami oleh anak-anak pada saat ini tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa faktor yang mendorong terjadinya kekerasan terhadap anak-anak.

  1. Faktor dari dalam diri anak. Misalnya anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlalu lugu, memiliki temperamen lemah, ketidaktahuan anak terhadap hak-haknya, anak terlalu bergantung kepada orang dewasa. Kondisi tersebut membuat anak mudah diperdaya.
  2. Faktor ekonomi keluarga. Misalnya orang tua menganggur, penghasilan tidak cukup, dan keberadaan anak yang terlalu banyak sehingga menjadikan anak sebagai pelampiasan terhadap permasalahan ekonomi yang dihadapi.
  3. Faktor kondisi hubungan keluarga. Misalnya orang tua bercerai, ketiadaan sosok ibu ataupun ayah dalam jangka panjang.
  4. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orang tua. Hal tersebut menyebabkan orang tua tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi.
  5. Sejarah penelantaran anak. Orang tua semasa kecilnya mengalami kekerasan sehingga cenderung memperlakukan anak sesuai dengan apa yang pernah ia alami. Hal tersebut seringkali terjadi tanpa disadari.
  6. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, pemukiman kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah.

 

Anak-anak yang mengalami kekerasan akan cenderung merasa kekurangan mendapatkan afeksi (kasih sayang). Padahal dari sisi psikologis, anak sangat membutuhkan afeksi ini untuk mengeksplorasi lingkungan mereka.

 

Kekerasan pada anak juga seringkali meninggalkan trauma panjang bagi anak. Anak akan tumbuh dengan trauma di dalam dirinya sehingga menjadi pribadi yang cenderung “bermasalah”. Permasalah tersebut dapat berupa ketidakmampuan anak mengendalikan diri dan memahami dirinya sendiri. Misalnya anak yang menjadi korban kekerasan fisik akan menganggap bahwa kekerasan fisik merupakan hal yang wajar dilakukan untuk menyelesaikan setiap masalah. Anak yang menjadi korban kekerasan seksual akan merasa dirinya tidak berharga dan memalukan dan bahkan bisa jadi anak akan tumbuh dan menjadi bibit pelaku tindak kekerasan seksual di kemudian hari. Anak yang tumbuh dengan mengalami kekerasan emosional atau kekerasan psikis akan menjadi pribadi yang sering tidak percaya diri, menarik diri dari kehidupan sosial, mengalami gangguan psikis berkepanjangan seperti diliputi perasaan cemas yang berlebihan.

 

Anak merupakan sosok yang seharusnya mendapatkan perlindungan. Keberadaannya yang masih lemah dari berbagai segi hendaknya didukung dengan menyediakan tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Maka dari itu anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik di kemudian hari.

Sekianlah info update kota solo yang berjudul
Kekerasan Anak, Salah Siapa? , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. Sampai jumpa di info kota solo yang lainnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.