Take a fresh look at your lifestyle.

Plengkung Kepatihan, Menyimpan Sejarah Panjang Kampung Kepatihan. Dulu Kawasan nDalem Kepatihan Menjadi Kompleks Rumah Patih yang Megah dan Indah

71

Kota Solo Terkini –
Plengkung Kepatihan, Menyimpan Sejarah Panjang Kampung Kepatihan. Dulu Kawasan nDalem Kepatihan Menjadi Kompleks Rumah Patih yang Megah dan Indah

Halo wong solo pengunjung setia KotaSoloID, Pada berita yang akan kalian baca kali ini adalah
Plengkung Kepatihan, Menyimpan Sejarah Panjang Kampung Kepatihan. Dulu Kawasan nDalem Kepatihan Menjadi Kompleks Rumah Patih yang Megah dan Indah , kami telah mempersiapkan berita dari berbagai sumber ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan kali ini
Plengkung Kepatihan, Menyimpan Sejarah Panjang Kampung Kepatihan. Dulu Kawasan nDalem Kepatihan Menjadi Kompleks Rumah Patih yang Megah dan Indah , yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Tidak banyak kawasan kampung lawas di Kota Solo yang ditandai dengan sebuah regol atau gerbang plengkung seperti yang dimiliki Kampung Kepatihan. Bila akan ke Kantor Kejaksaan Negeri Surakarta, keberadaan Plengkung Kepatihan akan mudah terlihat. Tidak hanya satu, namun bisa disaksikan, ada dua plengkung yang berdiri di tempat itu.

 

Plengkung Kepatihan menyimpan kisah yang cukup menarik. Kampung Kepatihan, dahulu merupakan kawasan Ndalem Patih atau tempat tinggalnya Pepatih dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 

Sebelum berada di Kampung Kepatihan seperti yang terlihat saat ini, lokasi Kepatihan Surakarta mengalami beberapa kali perpindahan. Kepindahan Kepatihan tersebut sesuai dengan kebijakan raja yang memerintah kala itu.

 

Pada awalnya, Kepatihan menggunakan nDalem Sindurejan yang berada di Puro Mangkunegaran. Lalu berpindah ke nDalem Jayanegaran saat Raden Adipati Jayanegara menjabat. nDalem Jayanegaran tak lagi digunakan sebagai Kepatihan, lantaran akan dijadikan pemandian raja oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII. Baru kemudian di era Raden Adipati Sosrodiningrat IV (era PB IX dan PB X), Kepatihan berpindah di lokasi yang ada seperti saat ini.

 

Kepatihan pada masa Raden Adipati Sosrodiningrat IV dibangun sebagai kompleks perkantoran dan rumah patih. Karena menjadi bagian dari Keraton Kasunanan Surakarta, maka kala itu arsitekturnya juga mirip dengan keraton. Bisa disebut, bawah kompleks Kepatihan adalah miniaturnya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 

Desainnya juga begitu mirip dengan kawasan keraton, dimana juga memiliki alun-alun kecil dan masjid. Kini keberadaan masjidnya masih bisa ditemui yaitu Masjid Al Fatih, yang berada di sisi selatan Gedung Kejaksaan Negeri Surakarta. Masjid tersebut letaknya tak jauh dari Plengkung Kepatihan.

 

Alun-alun kecil yang ada di Kepatihan juga dilengkapi dengan dua buah lengkung atau plengkung, yang berfungsi sebagai gerbang penyambutan menuju gerbang utama. Plengkung yang ada di Kepatihan, mirip dengan Plengkung yang bisa ditemui di gerbang masuk Supit Urang.

 

Tak jauh dari Plengkung Kepatihan, dahulu terdapat garasi kereta dan kandang kuda. Alat transportasi tersebut memang menjadi andalan Patih untuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Sementara gerbang utama Kepatihan yang pernah dimiliki kompleks Kepatihan, merupakan gerbang dengan ukuran besar. Arsitekturnya dibuat mirip dengan pintu masuk samping Baluwarti di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 

Seperti halnya tembok yang mengelilingi keraton, kawasan Kepatihan dahulu juga dikelilingi tembok yang tebal. Sisa tembok tersebut masih bisa dilihat di dalam kompleks Masjid Al Fatih Kepatihan. Meski tembok keliling kompleks nDalem Kepatihan sekarang sudah banyak yang tidak terlihat, namun sebagai gambaran saja, bahwa tembok keliling yang ada di nDalem Kepatihan pernah berfungsi sebagai tembok pelindung nDalem Kepatihan.

 

Sebagai kompleks perkantoran di zaman era Patih, maka dahulu kompleks tersebut juga dibangun beberapa rumah atau hunian abdi dalem Kepatihan. Beberapa bangunan dengan tembok-tembok tebal juga masih bisa ditemui di sisi timur kompleks Kepatihan saat ini.

 

Tidak hanya rumah-rumah para abdi dalem, namun di dalam kompleks Kepatihan juga ad ataman dan pendapa yang megah. Masih ada sisa bangunan yang masih ada bentuknya, yang dahulu pernah dipergunakan sebagai Taman Kanak-kanak (TK) Pamardisiwi II Kepatihan. Pintu jatinya yang tebal, tinggi dan kokoh masih bisa dilihat di Kampung Kepatihan.

 

Sisa-sisa kemegahan kompleks Kepatihan memang masih bisa dilihat melalui beberapa situs yang ditinggalkan. Mengenai hancurnya nDalem Kepatihan sendiri dari berbagai literatur masih belum bisa dipastikan penyebabnya. Ada spekulasi karena peristiwa Gerakan Anti Swapraja (1945), ada pula yang menyebut hancur akibat Agresi Militer Belanda II (1948).

 

Menyelami Kampung Kepatihan, kita semakin diperkaya akan khasanah kisah-kisah klasik tentang Kota Solo. Hampir tidak ada narasi sejarah yang tidak menarik untuk diikuti, bila mengulik tentang sejarah Kampung Kepatihan. Silahkan kalian jalan-jalan dan mengeksplore sisa-sisa bangunan lawas yang masih ada, sembari merasakan suasana batin yang terbangun ketika menelusuri jalan-jalan sempit yang ada di kawasan tersebut. Kisah sejarah itu, bisa kalian unggah di media sosialmu, agar semakin banyak orang tertarik untuk datang ke Kota Solo, kota yang penuh akan cerita sejarah yang menarik.

Sekianlah info update kota solo yang berjudul
Plengkung Kepatihan, Menyimpan Sejarah Panjang Kampung Kepatihan. Dulu Kawasan nDalem Kepatihan Menjadi Kompleks Rumah Patih yang Megah dan Indah , mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. Sampai jumpa di info kota solo yang lainnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.